Baju press body warna pink, karya pertamaku. Buatnya selama satu minggu (lama yach...). Paling lama pada pembuatan kerah & tangan, mesti di pas-pasin biar jatuhnya enak. Kata temen sih, karena pertama kali buat baju, jadi agak susah. Mudah2an bener. Kain yang kugunakan jenis foring. Itu loh, biasa digunakan untuk lapisan baju yang kainnya tipis menerawang. Ku pilih bahan foring, karena toh baju ini gak di pakai juga. Baju ini contoh model untuk ukuran press body, misalnya kebaya. Lehernya bulat, tangannya model lengan licin dan tetap memakai kupnat. Walau modelnya sederhana dan bahannya juga kain murah, paling nggak baju ini memotivasiku lebih rajin belajar jahit.
Terima kasih telah mengunjungi blog lennie. Blog ini berisi tulisan ringan seperti topik seputar kuliner, traveling, keterampilan dan hasil jepretan foto. Terlihat sederhana karena memang dibuat untuk sarana belajar menulis dan berbagi cerita, uneq2 dan pengalaman kepada siapa saja yang membaca Tulisan Ku. Semoga bermanfaat....
Pages
Senin, 21 Februari 2011
Rabu, 09 Februari 2011
Belajar Lagi.....
Akhirnya jadi juga beberapa jahitanku. Rok biasa alias standar, rok pake kupnat, rok setengah lingkaran sampe celana panjang. Emank sih jahitannya kurang rapi alias masih miring-miring, tapi se-nggaknya sudah ada hasil walaupun belum sempurna. Kata sang motivator : sering-sering latihan dan perbanyak referensi. Rajin bertanya pada guru, berdiskusi dengan teman dan banyak membaca buku-buku yang berhubungan dengan dunia jahit menjahit. Ah...hobi baru ini semakin asyik aja.
Saat ini aku mulai praktek bikin baju. Yah..masih model standar sih. Tapi bagiku justru model-model standar inilah yang emank jadi kesukaanku, karena bisa aku pake sehari-hari. Maklum, aku jarang sekali pergi ke acara formal jadi kurasa aku tidak begitu perlu memiliki baju-baju mewah dan resmi.
Untungnya sebelum aku belajar jahit, aku sudah memiliki beberapa kain, cuma (bukan nyombong nich) bahannya mahalan. Aku dapatkan dari pemberian orang hehehe.., sampai sekarang belum terpakai. Ada batik, tile, sutera sampe bahan satin. Ada juga katun bordir yang siap potong. Kelak kalau jahitanku sudah rapi, aku pasti jahit bahan-bahan itu.
Saat ini jenis kain yang ku pakai jahit adalah katun lokal. Untuk kota Balikpapan harga 18.000 rupiah per meter bisa di bilang murah. Cocok buat aku yang baru belajar, jadi gak takut sayang kalau jahitannya kurang rapi n potong bahannya kurang bagus. Biasanya aku menggunakan kain sepanjang 2 meter untuk membuat celana panjang dan rok panjang. Tapi kalau buat rok pendek selutut, aku hanya membutuhkan kain 1,5 meter dengan lebar 1,25 meter. Untuk baju, nanti akan ku ceritakan di postinganku selanjutnya..
Oke deh, sampe di sini dulu ceritaku, baca terus Toelisan Koe di postinganku yang lainnya..
Sabtu, 22 Januari 2011
Hobi baru di Pertengahan Tahun
15 Januari 2011, gak rasa ya...waktu berlalu demikian cepat dan kalau gak rasa tau2 pasti sudah Desember lagi. Sekilas menoleh ke belakang ada apa di 2010. Hal yang paling mencolok, aku mulai belajar lagi. Bukan financial management atau marketing business, juga bukan internet comercial sperti yang selama ini kugandrungi. Tapi Menjahit.
Ya Menjahit. Entah knapa aku suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan jahit menjahit. Sesuatu yang sebelumnya tidak begitu menarik perhatianku. Tapi sekarang, semua hal berbau menjahit selalu ku cari. Mulai nama2 perlengkapan jahit, nama kain sampai kualitas benang. Aku juga mendadak jadi kolektor kain. Mesin jahit yang selama ini jadi pajangan sekarang mulai beroperasi.
Aku sendiri juga heran, aku yang biasanya nggak sabaran n suka praktisan, mendadak jadi ulet n tekun sama urusan yang satu ini. Kayaknya sih, kegiatan ini bisa kujadikan hobi yang bisa menambah uang jajan....
Ya Menjahit. Entah knapa aku suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan jahit menjahit. Sesuatu yang sebelumnya tidak begitu menarik perhatianku. Tapi sekarang, semua hal berbau menjahit selalu ku cari. Mulai nama2 perlengkapan jahit, nama kain sampai kualitas benang. Aku juga mendadak jadi kolektor kain. Mesin jahit yang selama ini jadi pajangan sekarang mulai beroperasi.
Aku sendiri juga heran, aku yang biasanya nggak sabaran n suka praktisan, mendadak jadi ulet n tekun sama urusan yang satu ini. Kayaknya sih, kegiatan ini bisa kujadikan hobi yang bisa menambah uang jajan....
Rabu, 12 Mei 2010
Gulmut Spiderman....
Rabu, 10 Maret 2010
Info Dapur....
Hai..ini adalah info yang saya ambil dari Buletin Makro edisi 09-22 Maret 2010. Sengaja posting ke dalam Blog, agar dapat dibaca semua orang. Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua…
Unggas yang telah dicairkan harus segera dimasak dalam waktu <24 jam
Perhatikan kelembaban produk saat membeli. Bokong & paha yang tampak gembul menandakan kelembaban produk yang masih baik.
Jangan mencairkan ayam/unggas secara terbuka disuhu ruang. Bakteri akan cepat berkembangbiak & menurunkan kualitas produk.
Jangan membekukan ayam/unggas yang telah dibumbui/mengandung mayonaise, karena tidak akan bertahan lama.
Perhitungkan waktu transportasi dari tempat pembelian ke lokasi penyimpanan. Jika perjalanan memakan waktu lebih dari 3 jam, siapkanlah kotak pendingin (cooler box) untuk menyimpan daging selama perjalanan.
Masaklah ikan/seafood yang sudah dicairkan dalam waktu < 1 jam.
Ikan/seafood pada umumnya tidak perlu dicairkan untuk dimasak, kecuali jika ingin diolah dengan tepung atau tepung panir.
Mencairkan dengan air hangat akan menyebabkan bagian luar produk lembek dengan cepat, tetapi bagian dalamnya beku. Hal ini akan menyebabkan bakteri berkembang dengan lebih cepat dan mencemari produk.
Unggas yang telah dicairkan harus segera dimasak dalam waktu <24 jam
Perhatikan kelembaban produk saat membeli. Bokong & paha yang tampak gembul menandakan kelembaban produk yang masih baik.
Jangan mencairkan ayam/unggas secara terbuka disuhu ruang. Bakteri akan cepat berkembangbiak & menurunkan kualitas produk.
Jangan membekukan ayam/unggas yang telah dibumbui/mengandung mayonaise, karena tidak akan bertahan lama.
Perhitungkan waktu transportasi dari tempat pembelian ke lokasi penyimpanan. Jika perjalanan memakan waktu lebih dari 3 jam, siapkanlah kotak pendingin (cooler box) untuk menyimpan daging selama perjalanan.
Masaklah ikan/seafood yang sudah dicairkan dalam waktu < 1 jam.
Ikan/seafood pada umumnya tidak perlu dicairkan untuk dimasak, kecuali jika ingin diolah dengan tepung atau tepung panir.
Mencairkan dengan air hangat akan menyebabkan bagian luar produk lembek dengan cepat, tetapi bagian dalamnya beku. Hal ini akan menyebabkan bakteri berkembang dengan lebih cepat dan mencemari produk.
Perjalanan Ke Tanah Banjar
Waktu menunjukkan pukul 08.25 saat kapal ferry yang kami tumpangi mulai berlayar. Suasana kapal saat itu tidak terlalu banyak penumpang, mungkin karena hari Jum’at orang masih sibuk sekolah dan bekerja.
Diatas dek kapal dapat kami saksikan hamparan hutan bakau yang masih asri. Hijau segar nan eksotik. Hilir mudik, klutuk, speedboat sampai kapal tengker memadati arus lalu lintas sungai dipagi itu. Di kejauhan tampak kilang penyulingan minyak yang menjadi kebanggaan kota Balikpapan.
Tidak sampai satu jam akhirnya ferry yang kami tumpangi bersandar didermaga Penajam. Ini saatnya, kami berpetualang menuju tanah Banjar, tempat asal kakek dan nenek kami puluhan tahun silam.
Tanah Banjar, secara administratif masuk wilayah Kalimantan Selatan. Banjarmasin menjadi ibukotanya. Selain Banjarmasin, masih banyak lagi kota-kota lain yang mempunyai kekhas-an masing2. Mengendarai mobil sendiri membuat kami leluasa singgah di setiap kota yang kami lalui untuk sekedar mengambil foto, mencoba makanan andalan setempat sambil melepas penat.
Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan indah. Hutan tropis yang bercampur dengan perkebunan sawit. Tebing tebing batu disela sela hijaunya hutan (kereeeeennnya…..jadi ingat lembah anai di Sum-Bar). Aliran sungai2 kecil yang menjadi salah satu urat nadi masyarakat sekitar. Dan ini dia….., kami baru tahu kalau di Banjar ternyata ada sawah loh.. (he3x kirain cuma di Jawa) dan di sepanjang jalan banyak sekali orang memancing yang dalam bahasa setempat disebut Mahunjun. Semua itu dapat kami lihat sepanjang perjalanan di tanah Banjar mulai dari Tabalong sampai Martapura (Banjar Baru sampai Banjarmasin sudah termasuk kota besar).
Masyarakat Banjar terbilang sangat religius. Sepanjang jalan kami banyak menjumpai masjid2 dengan bangunan yang megah dan banyak madrasah (sekolah Islam) serta pondok pesantren yang santrinya masih muda2. Bahkan salah satu kota yang kami singgahi, memasang nama-nama Allah (Asmahul Husna) di jalan-jalan utama.
Dengan kondisi badan yang lelah dan capek, akhirnya sampai juga kami di Banjarmasin. Saat itu waktu hampir menunjukkan pergantian hari. Sampai di hotel kami pun langsung mandi dan beristirahat.
Sunggguh perjalanan yang melelahkan tapi sekaligus menyenangkan…
Langganan:
Postingan (Atom)


